Hubungan Antara Berat Kuilt Domba Garaman, Berat Blotten dan Berat Wet Blue dengan Luas Kulit Jadi
Jajang Gumilar
Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran
(dipublikasikan pada proseding Seminar Nasional Perspektif Pengembangan Agribisnis Peternakan di Indonesia, Universitas Jendral Sudirman, 2010)
(dipublikasikan pada proseding Seminar Nasional Perspektif Pengembangan Agribisnis Peternakan di Indonesia, Universitas Jendral Sudirman, 2010)
Abstract
The relationship between Sheep Salty Leather Weight, Blotten Weight, and
Wet Blue Weight with Leather Area
Jajang Gumilar
The aims of this research were to found out a relationship between sheep salty leather weight,
blotten weight, and wet blue weight with leather area. The method of this research was quasi-experiment, it used 2.291 pieces of priangan sheepskins that were classified in large
sheepskin. It was devided in five groups, each group was processed from soaking untilfinishing. Leathers area were measured by SNI 06-0483-1989 method. The results indicated
that there were significant correlation (P<0,5) r =" 0,916)." style="font-style: italic;">Key word: salty, blotten, wet blue, leather area
Pendahuluan
Kulit domba merupakan kulit yang ditanggalkan dari ternak domba. Kulit domba
digunakan sebagai bahan untuk garmen, sarung tangan, tas, sepatu wanita, dompet dan lain-
lain. Dibandingkan dengan jenis kulit ternak lain di Jawa Barat, kulit domba memiliki
potensi pengembangan yang paling besar, hal ini dapat dilihat dari potensi jumlah populasi
ternak domba sebagai ternak yang paling banyak terdapat di Jawa Barat, bahkan berdasarkan
data Statistik Indonesia Tahun 2008, lebih dari 44% ternak domba (4.605.417 ekor) berada di
Jawa Barat. Oleh karena itu tidaklah heran apabila pengrajin penyamakan kulit di Jawa Barat
mayoritas melakukan prosesing penyamakan kulit domba. Sebagian besar pengrajin
penyamakan kulit melakukan prosesing kulit dimulai dari kulit mentah garaman yang didapat
dari bandar kulit sampai dengan menjadi kulit jadi (leather), sedangkan sebagian kecil saja
dari pengrajin tersebut memulai proses produksinya dari kulit pikel.
Perdagangan kulit jadi dilakukan berdasarkan satuan luas kulit (square feet). Pembelian
kulit domba mentah segar dilakukan dalam satuan lembar dan pada awal proses serta
beberapa tahapan proses lainnya dilakukan penimbangan untuk mengetahui berat kulit yang
akan diproses sebagai dasar penggunaan bahan kimia. Oleh karena itu sering terjadi
permasalahan di kalangan praktisi penyamakan kulit terhadap ketepatan penyediaan kulit
mentah segar sebagai bahan baku utama dalam memenuhi permintaan konsumen, baik
konsumen domestik maupun konsumen manca negara secara tepat.
Secara anatomis komposisi kulit dibagi menjadi tiga bagian yaitu epidermis, korium,
dan subkutis. Epidermis merupakan lapisan paling luar pada kulit. Lapisan ini tidak diikut
sertakan pada proses penyamakan kulit lepas bulu, besarnya lapisan ini adalah 1 % dari tebal
kulit. Korium adalah lapisan yang dipakai dalam proses penyamakan, bagian ini juga dikenal
dengan sebutan kulit sesungguhnya (true skin), lapisan ini paling besar komposisinya
dibandingkan bagian lainnya (85%). Bagian yang ketiga adalah bagian subkutis, bagian ini
besarnya 14% dari tebal kulit keseluruhan (Purnomo, 1985).
Bagian yang dipakai dalam proses pengawetan kulit adalah bagian korium (true skin),
sedangkan bagian-bagian lainnya seperti epidermis dan subkutis tidak diikutsertakan dalam
proses pengawetan kulit. Epidermis dibuang bersamaan dengan pembuangan bulu pada saat
proses liming dan scuding, sedangkan lapisan subkutis dibuang pada saat proses fleshing,
sehingga diperoleh berat bloten dari kulit tersebut. Berat bloten digunakan sebagai acuan
penggunaan bahan kimia pada proses pengasaman (pickling) dan penyamakan (tanning).
Kulit yang dihasilkan setelah proses penyamakan krom disebut kulit wet blue, kulit wet
blue kemudian di ketam (shaving) untuk meratakan kulit dan menipiskan kulit sesuai
dengan keinginan konsumen. Proses berikutnya adalah proses dyeing. Sebelum kulit tersebut
didyeing kulit ditimbang dahulu sebagai acuan penggunaan zat kimia pada proses tersebut.
Proses finishing digunakan untuk menyempurnakan tampilan kulit sebelum akhirnya kulit
dijual kepada konsumen sebagai kulit jadi (leather) dengan menggunakan satuan square feet.
Agar penimbangan berat dapat juga dipakai untuk memprediksikan kira-kira berapa
luas kulit jadi domba yang akan dihasilkan, maka perlu dilakukan kajian mengenai hubungan
antara berat kulit domba garaman, berat bloten dan berat wet blue dengan luas kulit jadi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara berat kulit domba garaman, berat
kulit bloten, dan berat wet blue dengan luas kulit jadi.
Materi dan Metode
Obyek penelitian mengenai hubungan antara berat kulit domba garaman dan berat
bloten terhadap luas kulit jadi, dilakukan terhadap kulit domba sebanyak 2.291 lembar yang
diproses dalam 5 kelompok produksi. Masing-masing kulit diproses dari mulai proses
soaking sampai dengan proses finishing. Agar homogenitas penelitian ini dapat terjaga
dengan baik maka kulit yang dipakai dalam penelitian ini adalah kulit domba priangan
dengan klasifikasi kulit domba besar yaitu kulit-kulit domba mentah yang berukuran diatas
90 cm.
Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen semu. Peubah yang diukur
adalah: berat kulit garaman, berat bloten, berat shaving, dan luas kulit jadi. Prosedur
pengukuran luas kulit jadi dilakukan sesuai dengan metode SNI 06-0483-1989 tentang
ukuran luas kulit masak.
Data primer yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan persamaan regresi ganda
(multiple regressions) agar diperoleh pola hubungan antara berat kulit domba garaman dan
berat bloten dengan luas kulit pickle. Analisis data dilakukan dengan menggunakan bantuan
soft ware komputer SPSS 12.0. Besarnya korelasi antar variabel digunakan penafsiran
sesuai dengan pendapat Winarno, 1985.
Hasil Dan Pembahasan
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa berat kulit bloten adalah 68,6% dari berat kulit
utuh (berat kulit segar garaman). Hal ini menunjukkan bahwa selama proses soaking sampai
dengan proses fleshing telah terjadi pengurangan sebesar 31,4%. Penurunan ini sebagai akibat
dari lepasnya bulu, kulit bagian epidermis, dan kulit bagian subkutis sehingga pada saat
ditimbang berat bloten hanya merupakan berat kulit bagian koriumnya saja.
Komposisi lapisan korium sebesar 68,6% dari total berat kulit menunjukkan bahwa
persentase korium terhadap berat bloten cukup rendah bila dibandingkan dengan komposisi
korium terhadap berat kulit sebesar 85% sebagaimana yang dikemukakan oleh Purnomo
(1985). Selisih sebesar 16,4% dikarenakan pada saat kulit domba garaman ditimbang masih
ada bulu, dan sebagian garam yang menempel pada bulu dan kulit. Sebagaimana kita ketahui
bahwa karakteristik kulit domba priangan memiliki bulu yang cukup tebal sehingga secara
persentase akan menurunkan persentase berat bloten terhadap berat kulit mentah.
Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa tiap satu kilogram berat kulit utuh (kulit
segar garaman) menghasilkan kulit jadi seluas 3,3 sq.ft., sedangkan tiap satu kilogram berat
kulit bloten menghasilkan kulit jadi seluas 4,7 sq.ft, dan setiap setengah kilogram kulit wet
blue menghasilkan kulit jadi seluas 7,30 sq.ft.
Hubungan antara berat kulit domba garaman, berat bloten, dan berat wet blue dengan
luas kulit jadi dapat diketahui dengan analisis multiple regression. Berdasarkan hasil analisis
menggunakan program SPSS for Windows release 12.0 maka diperoleh persamaan matematis
sebagai berikut:
Y = -3,385 + 2,253 X1 + 0,998 X2 + 8,232 X3
Dimana :
Y = luas kulit kulit jadi; X1 = berat kulit garaman; X2 = berat bloten; X3 = berat wetblue; R
(squared) = 0.947; R² (multiple R) = 0.973; Fhit = 5.930; Ftab = 5.403
Berdasarkan persamaan regresi tersebut dapat dilihat bahwa penambahan berat kulit
garaman, berat bloten, dan berat wet blue akan menyebabkan penambahan luas kulit jadi.
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut dapat dilihat bahwa nilai Fhit > Ftab, hal ini
menunjukkan bahwa ada pengaruh sangat nyata (p < style="font-weight: bold;">Simpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasannya maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Terdapat hubungan yang signifikan ( P < style="font-weight: bold;">Persantunan
Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya kepada seluruh Pimpinan dan
Staff PT. Elco Indonesia Sejahtera, yang telah mengijinkan dilakukannya penelitian ini.
Daftar Pustaka
1. Departemen Perindustrian Republik Indonesia. 1980. Istilah dan Definisi Untuk Kulit dan
Cara Pengolahannya. Standar Industri Indonesia (SII). No:0360-80. Jakarta.
2. Departemen Perindustrian Republik Indonesia. 1989. Ukuran Luas Kulit Masak. Standar
Nasional Indonesia (SNI). No. 06- 0483-1989. Jakarta.
3. Badan Pusat Statistika. Statistik Indonesia. 2008. Jakarta.
4. Gaspersz V. 1991. Metode Perancangan Percobaan. Armico. Bandung.
5. . 1995. Teknik Analisis Dalam Penelitian Percobaan. Jilid 2. Tarsito.
Bandung.
6. Judoamidjodjo R, M. 1980. Teknik Penyamakan Kulit Untuk Pedesaan. Angkasa.
Bandung.
7. Parathasarathi K. 2000. Manual on Tanning And Finishing. Consultant UNIDO. India.
8. Purnomo E. 1985. Pengetahuan Dasar Teknologi Penyamakan Kulit. Akademi Teknologi
Kulit. Yogyakarta.
9. Sarkar K , T. 1995. Theory And Practice Of Leather Manufacture. Mahatma Gandhi
Road. Madras. India.
10. Sharphouse J.H. 1983. Leather Technician’s Handbook. Revised Edition. Vernon Lock
Ltd. London..
11. Thanikaivelan, P, J. R. Rao; B.U. Nair. 2005. Recent Trends in Leather Making:
Processes, Problems, and Pathways. Critical Reviews in Environmental Science and
Technology; 2005; 35, 1.
12. Winarno, S. 1985. Pengantar Penelitian Ilmiah. Edisi VII. Tarsito. Bandung.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar