PENGARUH PENGGUNAAN BERBAGAI TINGKAT ASAM SULFAT (H2SO4)
PADA PROSES PIKEL TERHADAP KUALITAS KULIT WET BLUE DOMBA
PRIANGAN JANTAN
Jajang Gumilar
Fakultas Peternakan Unpad.
(dipublikasikan pada Jurnal Ilmu Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran,
Volume 5, Tahun 2006)
Volume 5, Tahun 2006)
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan berbagai
tingkat asam sulfat (H2SO4) pada proses pikel terhadap kualitas kulit wet blue
domba priangan jantan. Kualitas kulit wet blue didasarkan pada kadar air, nilai
keasaman (pH), dan kadar krom (Cr2O3). Penelitian ini dilakukan secara
eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap menggunakan 20 lembar kulit
domba priangan jantan yang termasuk dalam klasifikasi kulit kecil. Penelitian
terdiri atas lima perlakuan tingkat asam sulfat yaitu R1 = 0,5%, R2 = 1%, R3 =
1,2%, R4 = 1,5%, dan R5 = 2% asam sulfat dihitung dari berat bloten, masing-
masing perlakuan diulang sebanyak empat kali. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa penggunaan berbagai tingkat asam sulfat (H2SO4) pada proses pikel
berpengaruh (P<0,05) terhadap nilai keasaman (pH), dan kadar krom (Cr2O3)
kulit wet blue domba priangan jantan. Penggunaan asam sulfat terbaik pada
penelitian ini adalah perlakuan ketiga (R3 = 1,2%).
Kata kunci : asam sulfat, proses pikel, kualitas, wet blue, domba priangan
jantan
THE EFFECTS OF SULFURIC ACID (H2SO4) VARIUOS LEVEL USE ON WET
BLUE QUALITY OF PRIANGAN SHEEP SKIN
Jajang Gumilar
Animal Husbandry - Unpad
Abstract
The aims of this research were to found out the effects of sulfuric acid (H2SO4)
various level use on wet blue quality of Priangan sheep skin. The quality of wet
blue skin based on water (H2O) concentration, pH value, and crom (Cr2O3)
concentration. This research was conducted experimentally with completely
randomized design used 20 pieces of small priangan sheep skins. This
research contained five treatments, there were R1 = 0,5%, R2 = 1%, R3 = 1,2%,
R4 = 1,5%, and R5 = 2% of sulfuric acid that calculated on bloten weight, each
treatments were replicated fourth times. The results indicated that various levels
of sulfuric acid (H2SO4) used were significant (P<0,5) on pH value, and
Crom(Cr2O3) concentration of wet blue sheep skin. The best sulfuric acid
(H2SO4) used at this research was third treatment (R3 =1,2%).
Key word: sulfuric acid, pickling process, quality, wet blue skin, priangan
sheep.
Pendahuluan
Produksi kulit domba di Jawa Barat memiliki potensi pengembangan yang
cukup besar dibandingkan dengan produksi kulit ternak lain, hal ini dapat dilihat
dari jumlah domba di Jawa Barat. Berdasarkan data statistik Jawa Barat Dalam
Angka tahun 2004, populasi domba di Jawa Barat paling besar dibanding
ternak lainnya dengan rincian sebagai berikut: domba 3.529,4 ribu, kambing
1.144,1 ribu, sapi potong 232,9 ribu, kerbau 149,9 ribu , sapi perah 98,9 ribu,
babi 8,1 ribu, dan kuda 14,2 ribu. Populasi domba secara nasional 41% berada
di Jawa Barat. Domba yang dipelihara oleh peternak di Jawa Barat sebagian
besar adalah domba priangan. Domba merupakan ternak yang paling banyak
dipotong di Jawa Barat yaitu sebanyak 542,9 ribu ekor. Semakin banyak ternak
dipotong menyebabkan ketersediaan kulit juga semakin banyak, hal ini terjadi
karena sifat kulit bukan sebagai produk utama (main products) tetapi hanya
sebagai hasil ikutan (by products) dari ternak yang dipotong.
Kulit domba segar dikenal dengan istilah skin yaitu kulit segar atau kulit
mentah yang memiliki berat kurang dari 15 kg. Kulit mentah (skin dan hide)
merupakan produk hasil peternakan yang memiliki nilai tambah tinggi apabila
telah mengalami proses lebih lanjut menjadi kulit hasil olahan (pickle, wet blue,
crust, dan leather). Kulit segar (kulit baru ditanggalkan dari hewannya) yang
disimpan tanpa proses pengawetan akan cepat mengalami kerusakan. Kulit
segar memiliki sifat mudah busuk karena merupakan media yang baik untuk
tumbuh dan berkembangbiaknya mikro organisme. Kerusakan karena mikro
organisme ini akan berpengaruh terhadap kualitas kulit jadi (leather). Kualitas
leather, baik secara fisik maupun kimia dipengaruhi juga oleh jenis, umur, dan
sex. Kulit domba jantan sangat baik dibuat leather untuk keperluan garment
karena kulit ini memiliki beberapa kelebihan seperti bagian kulitnya secara
topografis relatif homogen, lebih supel, tebal dan berisi, kekuatannya secara
fisik lebih tinggi, dan kulit jadinya tidak banyak yang keriput.
Kulit mentah yang telah mengalami proses lebih lanjut menjadi kulit hasil
olahan, dapat lebih tahan terhadap perubahan kimia maupun fisik. Secara
kimia, susunan kimiawi kulit telah mengalami perubahan dimana zat-zat kimia
yang mudah mengalami hidrolisis seperti lemak pada kulit menjadi lebih stabil.
Begitu juga dengan protein, yang asalnya mudah dijadikan media hidup oleh
mikro organisme berubah menjadi senyawa-senyawa yang tidak disukai oleh
mikro organisme. Selain itu kulit hasil olahan memiliki daya tahan terhadap
perubahan fisik seperti perubahan suhu, kelembaban, gesekan, dan lain-lain.
Proses pikel merupakan proses awal yang sangat penting pada tahapan
pengolahan kulit. Proses pikel memiliki beberapa fungsi diantaranya untuk
mengawetkan kulit yang tidak langsung diproses karena menunggu sampai
jumlah tertentu agar proses produksi mencapai skala ekonomis, atau
menunggu pesanan dari konsumen. Pengawetan secara pikel dapat
meningkatkan daya simpan kulit sampai satu tahun apabila disimpan dalam
rendaman pikel. Selain itu tempat penyimpanan persediaan kulit menjadi lebih
kecil karena kulit hanya bagian corium (true skin) saja. Apabila persediaan kulit
sudah mencapai jumlah tertentu atau sudah ada pesanan dari konsumen maka
kulit pikel dapat langsung dilakukan proses penyamakan sehingga waktu
proses menjadi lebih singkat.
Proses pikel adalah proses untuk mengubah kondisi kulit menjadi asam.
Asam sulfat (H2SO4) merupakan zat kimia yang paling banyak digunakan pada
proses pikel oleh masyarakat penyamak kulit. Saat ini, penggunaan asam sulfat
untuk membuat kulit pikel pada domba priangan sangat bervariasi antara satu
penyamak dengan penyamak lainnya. Penggunaan asam sulfat tersebut
didasari oleh pengalaman empirik tiap-tiap penyamak dan belum diketahui
dengan pasti berapa tingkat penggunaan asam sulfat yang optimal dalam
proses pikel kulit domba priangan, khususnya domba priangan jantan.
Beberapa ahli juga mengemukakan jumlah penggunaan asam sulfat yang
berbeda-beda pada proses pikel, diantaranya menurut Judoamidjodjo (1980)
sebanyak 1,5 – 2%, menurut Purnomo (1985) sebanyak 1%, dan menurut
Sarkar (1995) sebanyak 0,5-1,2%.
Kulit wet blue adalah kulit hewan yang disamak sampai proses penyamakan
krom, tetapi tidak diproses selanjutnya dan masih dalam keadaan basah. Pada
umumnya untuk menghasilkan kulit samak yang disamak dengan zat penyamak
krom (kulit wet blue), sebelumnya kulit harus melalui proses pengasaman
(pikel) pada pH antara 3 – 3,5, karena pH zat penyamak krom sebesar 2,8 –
3,0. Apabila kulit tidak melalui proses pikel maka akan terjadi kontraksi pada
jaringan kulit dan terjadi perbesaran molekul krom secara spontan (karena
kenaikan pH basisitet) yang menyebabkan kulit lebih cepat matang pada bagian
luar. Hal ini akan mengakibatkan tertutupnya jalan untuk penetrasi cairan krom
berikutnya sehingga kulit lama masaknya dan tidak dapat disamak secara
sempura (Edi Purnomo, 1985).
Berdasarkan uraian tersebut maka dilakukan penelitian pengaruh
penggunaan asam sulfat (H2SO4) pada proses pikel terhadap kualitas kulit wet
blue domba priangan jantan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh
mana pengaruh penggunaan asam sulfat (H2SO4) pada proses pikel terhadap
kadar air, kadar keasaman, dan kadar krom kulit wet blue domba priangan
jantan serta untuk mengetahui jumlah terbaik penggunaan asam sulfat pada
proses pikel tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai
informasi penggunaan asam sulfat pada proses pikel dalam usaha memperbaiki
kualitas kulit wet blue domba priangan jantan.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan 20 lembar kulit domba priangan jantan dengan
rataan berat 0,53 ± 0.04 kg, yang diperoleh dari pengumpul kulit domba di
Wanaraja, Kabupaten Garut. Kulit-kulit tersebut dibagi kedalam 5 kelompok.
Tiap-tiap kelompok diberikan perlakuan pemberian asam sulfat (H2SO4) teknis
99%, sesuai dengan pendapat Judoamidjodjo (1981), Purnomo (1985), serta
Sarkar (1995) yaitu sebanyak 0,5% (R1); 1% (R2); 1,2% (R3); 1,5% (R4); dan 2%
(R5) dari berat kulit bloten.
Pelaksanaan penelitian ini dimulai dengan mengumpulkan kulit domba
priangan jantan dalam bentuk kulit segar garaman dengan klasifikasi kulit kecil
(kids or small below) yaitu ukuran panjang dari ujung ekor sampai ujung pundak
lebih kecil dari 28 inchi (Sarkar, 1991). Kulit segar garaman kemudian
ditimbang untuk penentuan kebutuhan air dan zat kimia pada proses soaking
dan limming.
Kulit dimasukkan ke dalam drum soaking lalu dicuci dengan air mengalir
sampai bersih, kemudian airnya dibuang. Proses soaking (pelemasan kulit)
dilakukan dengan mengganti air dan menambahkan wetting agent serta
Na2CO3, kemudian drum diputar (2 rpm) selama dua jam. Proses limming
(pembuangan bulu dan lapisan epidermis) dimulai dengan memasukan Na2S,
wetting agent, Ecovit, dan Ca(OH)2. Drum diputar 2 rpm dengan
mengkombinasikan antara pemutaran, pengistirahatan, dan perendaman
selama 12 jam.
Drum diputar selama satu jam sebelum kulit dikeluarkan dari dalam
drum, kemudian dilakukan proses fleshing dengan menggunakan mesin
fleshing untuk menghilangkan lapisan subcutis. Bulu kecil yang masih
menempel pada kulit dibuang dengan menggunakan pisau scudding.
Kulit yang sudah terpisah dari lapisan epidermis, bulu, dan lapisan
subcutis ditimbang untuk memperoleh berat bloten yang dipakai sebagai dasar
pada penentuan kebutuhan air dan zat kimia lainnya saat proses delliming,
batting, pickling, dan tanning. Kulit bloten dicuci dengan cara mengalirkan air
ke dalam drum pickling yang sedang berputar sampai nilai kulit mencapai pH 8
kemudian airnya dibuang. Proses buang kapur (delimming) dilakukan dengan
cara memasukan air ke dalam drum pickling, ditambahkan ammonium sulfat
((NH4)2SO4) kemudian diputar selama 90 menit. Batting agent dan wetting
agent ditambahkan pada proses pengikisan protein (batting), kemudian drum
pickling diputar selama dua jam.
Pencucian dengan air mengalir sambil drum tetap diputar sampai
dengan mencapai pH 7 dilakukan sebelum proses pikel. Proses pikel
dilakukan dengan menambahkan air, NaCl, NaHCOOH, HCOOH, dan H2SO4
yang diberikan sesuai dengan dosis perlakuan, kemudian drum diputar selama
dua jam. Setelah pH mencapai 3 diteruskan proses penyamakan (tanning),
dimulai dengan membuang air pikel, memasukan Na2SO4, Cr2(SO4)3, sodium
asetat, NaHCOOH, dan Na2CO3, kemudian drum tanning diputar selama 3 jam.
Penelitiaan menggunakan metode eksperimental. Rancangan yang
digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan
penggunaan asam sulfat (H2SO4) yaitu: R1 = 0,5%; R2 = 1%; R3 = 1,2%; R4 =
1,5%; dan R5 = 2% dari berat bloten. Setiap perlakuan diulang sebanyak empat
kali. Peubah yang diukur dalam penelitian ini adalah kualitas kulit domba wet
blue yang terdiri atas: kadar air, nilai keasaman (pH), dan kadar krom (Cr2O3).
Pengukuran peubah mengacu kepada Standar Industri Indonesia (SII)
No.0067-75 tentang Mutu dan Cara Uji Kulit Wet Blue Domba/Kambing. Uji
untuk mengetahui pengaruh perlakuan digunakan analisis ragam, sedangkan
untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan digunakan uji jarak berganda
Duncan pada taraf kepercayaan lima persen.
Hasil Dan Pembahasan
Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Air Kulit Wet Blue Domba Priangan
Jantan
Hasil pengujian kadar air kulit wet blue domba priangan jantan yang
diberi perlakuan berbagai tingkat asam sulfat, menunjukkan trend penurunan
seiring dengan bertambahnya pemberian asam sulfat pada proses pikel.
Walaupun demikian setelah dilakukan analisis ragam tidak terdapat perbedaan
nyata untuk semua perlakuan (Tabel 1).
Tidak berbedanya kadar air tiap perlakuan pada kulit wet blue domba
priangan jantan disebabkan pada saat proses pikel kadar air sudah mengalami
penurunan sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Woodrofe (1948)
bahwa proses pikel mengeluarkan sejumlah air yang ada pada kulit segar,
terutama air bebas yang ada pada kulit. Selain air bebas, air terikat juga turut
keluar sebagai akibat terjadinya denaturasi protein yang ada di dalam kulit
karena pengaruh asam. Hal ini sejalan dengan pendapat Soeparno (1998) yang
mengemukakan bahwa pada proses denaturasi protein terjadi perubahan ikatan
polipeptida protein yang akhirnya air terikat di dalam protein jadi terlepas.
Keluarnya air dari kulit juga terjadi pada proses penyamakan yaitu pada saat
terjadinya pengikatan antara molekul-molekul krom kompleks di dalam kulit.
Pendapat ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Judoamidjodjo
(1981) yang menyatakan bahwa pada proses penyamakan terjadi proses
olation yaitu suatu pengikatan antara dua molekul yang sama (molekul
kompleks) menjadi molekul yang lebih besar dengan mengeluarkan air.
Keluarnya air bebas serta air terikat pada proses pikel dan proses penyamakan,
dapat menyebabkan kadar air yang masih ada di dalam kulit wet blue
mengalami penurunan sehingga jumlahnya menjadi relatif sama untuk tiap
perlakuan.
Berdasarkan standar SII No. 0067-75 tentang Mutu dan Cara Uji Kulit
Wet Blue Domba/Kambing, kadar airnya berkisar antara 50%-60%. Kadar air
kulit wet blue yang diberi perlakuan asam sulfat dari mulai R1 sampai dengan
R5 menghasilkan kulit wet blue dengan kadar air sebesar 59,08% sampai
dengan 59,40%. Mengacu pada SII tersebut maka kualitas kulit wet blue hasil
perlakuan masih sesuai dengan standar yang berlaku.
Pengaruh Perlakuan terhadap Nilai pH Kulit Wet Blue Domba Priangan
Jantan
Nilai pH wet blue pada masing-masing perlakuan menunjukkan pola
semakin naik seiring dengan penambahan asam sulfat pada proses pikel. Hasil
uji statistik dengan menggunakan uji Jarak Berganda Duncan menunjukkan
bahwa nilai pH pada perlakuan R3, R4, dan R5 lebih besar (P<0,05)
dibandingkan dengan perlakuan R1 dan R2, perlakuan R2 lebih besar (P<0,05)
dibandingkan dengan R1, sedangkan perlakuan R3, R4, dan R5 masing masing
tidak berbeda nyata (Tabel 2).
Peningkatan penambahan asam sulfat pada proses pikel menyebabkan
peningkatan nilai pH kulit wet blue, kondisi ini diduga karena zat penyamak
krom yang terikat dalam kulit wet blue semakin banyak. Hal ini sesuai dengan
pendapat Woodrofe (1948) bahwa asam yang digunakan pada proses pikel
berfungsi untuk memecah ikatan silang diantara fibril-fibril kulit sehingga
memperluas ruang antara fibril dengan polipeptida di dalam kulit yang siap diisi
oleh zat penyamak. Zat penyamak krom yang berikatan dengan fibril kulit
memiliki sifat basa sebagaimana dikemukakan oleh Purnomo (1985) bahwa
krom kompleks yang berikatan dengan fibril kulit sebagai gugus hidroxo yang
bersifat basa, selain itu pada proses olation terbentuk garam kromium basa
yang stabil.
Nilai pH berdasarkan SII No. 0067-75 adalah 3,6-3,86. Nilai pH kulit wet
blue yang diberikan perlakuan asam sulfat hanya R3 dan R4 yang memiliki nilai
pH sesuai dengan standar tersebut. Mengingat R3 dan R4 tidak berbeda nyata
satu sama lain, maka perlakuan R3 adalah yang terbaik pada penelitian ini
ditinjau dari nilai pH kulit wet blue domba priangan jantan.
Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Krom Kulit Wet Blue Domba
Priangan Jantan
Krom merupakan salah satu zat penyamak yang banyak digunakan pada
prosesing kulit, karena memiliki beberapa kelebihan diantaranya kulit jadi
(leather) lebih halus, lebih tahan terhadap panas, dan lebih tahan sobek. Hasil
pengujian kadar krom sebagai pengaruh dari perlakuan penggunaan asam
sulfat (H2SO4) pada proses pikel menghasilkan kadar krom semakin
meningkat. Berdasarkan analisis ragam terdapat perbedaan nyata (P<0,05)
pengaruh penggunaan asam sulfat terhadap kadar krom kulit wet blue domba
Priangan jantan. Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan uji
jarak berganda Duncan. Hasil perhitungan uji jarak berganda Duncan dapat
dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 tersebut menunjukkan bahwa dari mulai perlakuan R1 sampai
dengan R4 tidak menunjukkan perbedaan yang nyata satu sama lain, perlakuan
R5 berbeda nyata (P<0,05) lebih besar dibandingkan dengan perlakuan R1 dan
R2 tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan R3, dan R4. Tingginya
kandungan krom di dalam kulit wet blue yang dihasilkan oleh perlakuan R5
dibandingkan dengan perlakuan R1 dan R2 diduga sebagai akibat konsentrasi
asam sulfat menyebabkan kondisi kulit lebih asam sehingga krom dapat
bereaksi lebih sempurna dengan kolagen kulit. Hal ini sesuai dengan pendapat
Purnomo (1985) yang mengemukakan bahwa pH zat penyamak krom antara
2,8-3,0. Bila kulit tidak diasamkan (dipikel), di samping terjadi kontraksi juga
dimungkinkan adanya perbesaran molekul krom secara spontan yang
mengakibatkan kulit cepat matang pada bagian luarnya yang selanjutnya akan
menutup jalan untuk penetrasi cairan krom berikutnya.
Kadar krom di dalam kulit wet blue domba menurut SII No. 0067-75
berkisar antara 5 – 6%. Perlakuan yang menghasilkan kadar krom sesuai
dengan standar tersebut adalah perlakuan R2 sampai dengan R4. Mengacu
kepada hasil uji statistik dan standar industri di Indonesia, maka perlakuan yang
terbaik pada penelitian ini adalah perlakuan R3.
Kesimpulan
Penggunaan asam sulfat (H2SO4) pada proses pikel memiliki pengaruh
nyata terhadap nilai pH dan kadar krom kulit wet blue, tetapi tidak memberikan
pengaruh terhadap kadar airnya. Penggunaan asam sulfat sebanyak 1,2%
pada proses pikel memberikan kualitas terbaik pada kulit wet blue domba
priangan jantan.
Daftar Pustaka
Departemen Perindustrian Republik Indonesia. 1975. Mutu dan Cara Uji Kulit
Pikel Domba/Kambing. SII No. 0066-75. Jakarta.
Gaspersz V. 1991. Metode Perancangan Percobaan. Armico. Bandung.
Judoamidjodjo R, M. 1980. Teknik Penyamakan Kulit Untuk Pedesaan.
Angkasa. Bandung.
Parathasarathi K. 2000. Manual on Tanning And Finishing. Consultant UNIDO.
India.
Purnomo E. 1985. Pengetahuan Dasar Teknologi Penyamakan Kulit. Akademi
Teknologi Kulit. Yogyakarta.
Sarkar K , T. 1995. Theory And Practice Of Leather Manufacture. Mahatma
Gandhi Road. Madras. India.
Soeparno. 1994. Ilmu dan Teknologi Daging. Gajah Mada University Press.
Yogyakarta
West, E.S. 1963. Textbook of Biophysical Chemistry. 3th Ed. The Macmilan
Company. New York.
Winarno, S. 1985. Pengantar Penelitian Ilmiah. Edisi VII. Tarsito. Bandung.
Woodroffe D. 1948. Fundamentals Of Leather Science. A. Harper
Publisher. Duppas Hill Road. Inggris.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar